HUBUNGAN MAGNESIUM (Mg) DAN KALSIUM (Ca) PADA PENDERITA SKIZOFRENIA DI RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

Nita Ermawati Sugeng Priyanto, Aryati Aryati, Puspa Wardhani, Azimatul Karimah

Abstract


Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Magnesium adalah antagonis alami dari Calsium dan merupakan Voltage-dependant blocker dari N-Methyl-D-aspartate (NMDA) channel yang memegang peranan penting dalam proses masuknya Calsium ke dalam neuron. Dalam kondisi normal ion Magnesium memblok masuknya Calsium kedalam neuron melalui NMDA reseptor yang bisa menyebabkan kerusakan neuron karena terbukanya NMDA-couple calsium channel. Pada Skizofrenia terjadi kematian sel neuron akibat ketidakseimbangan rasio Magnesium dan Calsium yang menyebabkan disintegrasi mikro struktur cerebral yang berkaitan dengan peningkatan CRP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan  Mg dan Ca pada penderita Skizofrenia di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Subjek adalah pasien dengan diagnosa Skizofrenia yang ada di IRD dan IRNA Jiwa RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Nilai rata-rata Ca dari 55 sampel dalam penelitian ini sebesar 9,871 mg/dL. Rerata nilai Mg sebesar 2,422 mg/dL Uji Kolmogorov Smirnov dapat disimpulkan bahwa asumsi kenormalan data tidak terpenuhi karena nilai yang bermakna dihasilkan setiap kelompok lebih kecil dari 0,05. Karena asumsi kenormalan data tidak terpenuhi, maka uji korelasi pearson digantik dengan uji korelasi Rank Spearman . Nilai sig korelasi antara Ca dengan Mg sebesar 0,000. Nilai ini lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara Ca dengan Mg. Koefesien antara kedua variabel ini sebesar 0,774 (sangat kuat). Nilai koefisien korelasi ini memiliki makna bahwa kenaikan Ca akan diikuti kenaikan Mg dan sebaliknya penurunan Ca akan diikuti penurunan Mg.

 


References


Akemat. 2007. Kesehatan Jiwa & Psikiatri Pedoman Klinis Perawat. Jakarta. EGC; 114 – 117.

Baratawidjaya, Karnen Garna. 2009. Imunologi Dasar. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ; 109-117

Bowie CR dan Harvey PD, 2006. Cognitive deficits and functional outcome in schizophrenia. Neuropsy Dis Treat, 2: 531–6.

Bresink I, Danysz W, Parsons CG, Mutschler E. 1995. Different

binding affinities of NMDA receptor-channel blockers in

various brain-regions – indication of NMDA receptor heterogeneity. Neuropharmacology ;34:533–40.

Brown A.S. & Derkits E.J. 2010. Prenatal infection and schizophrenia: a review of epidemiologic and translational studies. Am J Psychiatry 167, 261 – 280

Brown AS dan Susser ES, 2008. Prenatal nutritional deficiency and risk of adult schizophrenia. Schizophr. Bull, 34: 1054-63

Dahlan, Sopiyudin. 2005. Besar Sampel dan cara Pengambilan Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Yogyakarta : Salemba Utara; 19-21

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGj- III). Jakarta, 45: 105–15

Derom ML, Martienz-Gonzales MA, Sayon-Orea Mdel C, Bes-Rastrollo M, Beunza JJ, Sanchez-Villegas A. 2012. Magnesium intake is not related to depression risk in Spanish University Graduates. J Nutr; 142: 1053-9

Dickerson F.et al. 2013. C-reactive protein is elevated in schizophrenia. Schizophr Res 143, 198 – 202

Dickerson F., Stalling C. & Origoni A. 2012. Additive effects of elevanted C-reaktive protein and exposure to Herpes simplex virus type I on cognotive impairment in individuals with schizophrenia. Schizophrenia Research 134, 83 – 88

Direja, Ade Herman Surya. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta.Nuha Medika; 96-97

Fan X. Pristach, Liu EY, Freudenreich O, Henderson DC, Goff DC . 2007. Elevated serum levels of C-reactive protein are associated with more severe psychopathology in a subgroup of patients with schizophrenia. Psychiatry res 149, 267-271

Gillessen T, Budd S, Lipton S. Excitatiory amino acid neuratoxicity. In : Alzheimer C (ed). Molecular and cellular biology of neuroprotection in the CNS series: advances in experimental medicine and biology, Vol 513. New York: Kluwer Academic/ Plenum Publishers; 2002. P. 3-40

Hadisaputra, Soeharyo. 2007. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta : Amara Books; 109 - 110

Handojo, Indro. 2004. Imonoasai Terapan Pada Beberapa Penyakit Infeksi. Surabaya : Airlangga Universiti Press; 272-277

Hashizume, N. And Mori, M. (1990). An analysis of hypermagnesia and hypomagnesia. Japanese Journal of Medicine 29, 368 - 372

Ingle, PV. Patel, DM.,2011. C-Reaktif Protein in Various Disease Condition-An Overview. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research, 4(1).

Inoshita M, Shusukhe N, dkk. 2016. A significant causal association between C- reaktif protein levels and schizophrenia, https://ncbi.nlm.nih.gov/pmv/articles/PMC4872134/

Joffe RT, Levith AJ, Young LT. 1996. The thyroid magnesium and calcium in major depression. Biol Psychiatry 40: 428 – 429, 1996

Kaplan & Sadock’s. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis; Alih Bahasa, Profitasari, Tiara Mahatmi Nisa ; Editor edisi bahasa Indonesia Husny Muttaqin, Retna Neary Elseria Sihombing. – Ed 2 - Jakarta : EGC; 147-165

Kumar, Vinay. 2013. Robbins basic pathology / [edited by] Vinay Kumar, Abul K. Abbas, Jon C. Aster. – 9th ed. 2013; 13-15

Laure Derom M, Carmen Sayon Orea, Jose Maria MO, Miguel AMG. 2013 Magnesium and depression : a systematic review.

Luana, Ester, 2007. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Muha Medika. Hal 96-97.

Maramis: Antimuscarinic properties of neuroleptics and drug-induced parkinsonism. Nature 284:596-597, 2009

Muller – Oerlinghausen, B. And Berghofer, A. 1999. Antidepresisants and suicidal risk. Journal of Clinical Psychiatry 60 (Suppl.2), 94 – 99

Mark LP, Prost RW, Ulmer JL, Smith MM, Daniels DL, Strottman JM, et al. 2001. Pictorial review of glutamate excitotoxicity: Fundamental concepts for neuroimaging. Am J Neuroradiol ; 22: 1813-24

Nechifor M Vaideanu C. Palamaru I Borza C Mindreci I. 2004. The influence of some and zinc in patient with paranoid schizophrenia. J Am Coll Nutr, 2004, 23, 549 – 551

Nuryani. 2013. Kumpulan Kasus Patologi Klinik. Tangerang. Binarupa Aksara ; 196 – 204.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka cipta; 46 - 58

Noronha JL, Matuschak GM. 2002. Magnesium in critical illness: metabolism, assessment, and treatment. Intensive Care Med, 2002, 28 (6), 669 – 679

Ordak, Michail. Magnesium in schizophrenia. 2017. http://dx.doi.org/10.1016/j.pharep.2017.03.022

Paul,M. 2016. Serum Calsium and Magnesium Levels in Schizophrenia. Arch Gen Psychiatry-Vol 36, Nov 1979.

Pranata, Andi Eka. 2013. Manajemen Cairan & Elektrolit. Yogyakarta. Nuha Medika; 42-44

Rassumsen, H.H., Mortensen, P.B. and Jensen, I.W. (1989). Depression and magnesium deficiency. Internasional Journal of Psychiatry in Medicine 19, 57 – 63

Salis NEL, Mervaala E, Karppanen H, Khawaja JA, Lewenstam A. 2000. Magnesium – an update on physiological, clinical and analytical aspects. Clin Chim Acta 2000: 294 : 1-26

Sadock, Benjamin J. 2007. Kesehatan Jiwa & Psikiatri. Jakarta. EGC; 114-147

Sobolevskii AI, Khodorov BI. 2002. Bocker studies of the functional architecture og the NMDA receptor channel. Neurosci Behav Physiol. Vol 32: 157-71




DOI: http://dx.doi.org/10.24293/ijcpml.v25i3.1498

Refbacks

  • There are currently no refbacks.